Minggu, 29 November 2009

sajak-sajak peri sandi huizche

Peri Sandi Huizche
permainan dan dimainkan

belok kanan, belok kiri, lurus dan mentok
kembali lagi

belok kanan, belok kiri, belok kanan, belok kiri
ada jendela

dobrak

belok kanan, belok kiri, lurus dan mentok
kembali lagi

jalan dan berjalan adalah kemungkinan kejadian
disetiap tandanya akan muncul kehidupan
langit membentang tak ada ukuran
imajinasi melayang-layang
tubuh menjadi ornamen kegelapan

siapa kamu?
kau hanya sepenggal daging
yang keluar dari tulang rusukku
perempuan?

siapa kamu?
ketiadaanmu menggelapkan pikiran untuk merabamu
tuhan?

wow..akhiran kalian huruf N
dalam bahasa lain huruf akhir perlu diperhatikan
agar loncatan makna dapat dibaca

N
perempuaN
tuhaN
selalu ingin diperhatikaN

aku?

U!

2009



peri sandi huizche
aku memarkirkan dirinya

aku memarkirkan dirinya di pelataran matamu
keluar masuk, datang dan pergi sangat rapi
bahkan menyerupai kedatangan matahari.
disini. di ruang sunyi

dia adalah imaji yang dikendarai dengan kencang
yang menyebrangi jembatan untuk menuju kesebuah kisah

rolling stones berdoyang di telinga

dan speedometer menggelepar
gas terus saja ditekan

jarak 20 meter zebra cross terlihat jelas

kisah lain melintas
berpapasan dengan kisah-kisah yang lain

seperti sapaan hei...
tabrakan tak bisa dielakkan

sebuah kisah menabrak kisah lain
dan ditabrak oleh kisah-kisah yang lain
terus dan terus. beruntun.

kematian. tangisan. ketakutan. jalanan macet. suara serine.
darah.
menjadi hal yang biasa.

owh...kalimatku mati. menjadi bangkai.
menumpuk bersama korban perang
bertemu dengan Hitler dan kawan-kawan yahudi

2009



peri sandi huizche
ahk

berdiri di bawah bilboard
membaca kotaku yang penuh dengan garis dan huruf-huruf
warna mewarnai serupa musim
bunyi kenalpot memburu telinga
buru memburu seperti jaman batu...

di langit kapal terbang memecah awan.

perutku lapar

2009




Peri Sandi Huizche
seperti malam ini

seperti malam ini tuhan..
bulan dan bintang adalah metafor yang menyakitkan
mengurungku di dalam kegetiran-kegetiran
aku memahami bulan dan bintang sebagai sebuah sindiran
romantisme yang terlambat untuk sengaja diterlambatkan

lalu kenapa kau menciptakannya tuhan?
kata-kata bulan dan bintang sudah tak memiliki roh
karena rohnya terbakar di sebuah pasar

seorang yang lain membelinya di emperan
dan menyimpannya di dapur dekat kompor
lalu dimana banrolnya?

ahk....aku ini hidup dijaman neo kapitalis....

hei....sobat lama...
apakah kau telah membeli bulan dan bintang?
sekarang sedang didiskon lochhh...
ih...murah-murah..kan lagi tren

tuhan
lebih baik aku tak memiliki apa-apa
ketimbang aku disamakan dengan kompor atau tong sampah

2009



Peri Sandi Huizche
karena aku suka matamu seperti da dan da

aku melihat kepingan-kepingan arah yang lalu lalang
disana kita berjumpa, tepat di tengah jalan
saat Traffic light berwarna kuning
dan klakson terus berbunyi...
katamu kepadaku :
apakah aku mengenalmu?

aku suka matamu seperti da dan da
begitu kataku

kita hidup bukan di jaman aristoteles yang berstruktur
yang merunut kisah sedemikian rapi
dari eksposisi sampai konklusi
kita ini tumpukan barang bekas
tumpukan daging, darah, dan yang lainnya.

maka sangat syah kalau tiba-tiba aku mengenalmu
karena mitos penciptaan hawa ada di kepala kita
kau ingat syair ini "hawa tercipta kedunia untuk menemani sang adam"

lalu aku suka matamu seperti da dan da

dada
ya dada

bukan aku mau mengulang kembali kisah-kisah itu
tapi kita hidup di tengah tumpukan kisah-kisah dan sejarah
dan kita harus menciptakan kembali sejarah

dada
ya dada

2009



Peri Sandi Huizche
Seperti

kepada teman

tanganku mengeluarkan kata-kata
seperti mulut yang sering berbohong
tanganku juga sama. ia pandai menyembunyikan bahasanya.
kata-kata berderet menjulurkan maknanya
makna yang tak pernah kujumpai di warteg
atau warung kopi. ia adalah huruf A atau K atau U..

tanganku mengeluarkan kata-kata mimpi
tentang perempuan yang membungkus mulutnya dengan lakban
tentang lelaki yang mandul karena kantung rahimnya dijual di pasar caringin.

ahay...tanganku juga pandai menari
berjoget dengan jimi atau janis kadang juga dengan jim

entah apa yang membuat kata-kata keluar dari sela pikiran yang sakit,
dari mata yang kantuk, juga rutinitas bertegangan tinggi.
entah kenapa tanganku bergetar saat melihat tv,
melihat ban mobil yang terus berputar,
dan traffic light warna warni.
kadang kecepatannya di atas 100 atau 500
seperti pembalap GP.

maka tanganku selalu mengeluarkan kata-kata
seperti mulut yang sering berhohong...dan tanganku juga sama.

2009



Peri Sandi Huizche
Cerita Kepalaku

kepada teman

sejak kapan baju membungkus kepalaku,
tumpuk menumpuk dan saling berpelukan,
aku hanya ingat, aku sudah telanjang di depan mall
sambil membawa sebuah kardus yang berisi kepalaku.
sembari melamun aku berjalan kedalam mall,
orang orangan plastik mengajakku berdansa.
lalu kepalaku kuletakkan di lantai.
aku lupa kepalaku tertinggal dimana.

kamu meningalkanku di dalam kardus,
aku tidak bisa melihat apa-apa
yang kutahu aku mendengar banyak hentakkan
sepatu berjalan, suara dari speaker, obrolan orang-orang.

aku kembali .mencari kepalaku yg hilang. kusimpan dimana kepalaku.

aku dipindahkan dari lantai kerak, bersama permen dan coklat.
aku makan permen itu. coklat itu. rasanya manis.
aku bahagia ditinggalkan tubuhku.

aku tertinggal kepala di lantai ini
dan sejak kpn baju membungkus kepalaku,
tumpuk menumpuk dan saling berpelukan,
aku hanya ingat, aku sudah telanjang di depan mall
sambil membawa sebuah kardus yang berisi kepalaku.
ih..kepalaku tak mau mengumumkan kehilangan tubuhnya.

aww...aku makan coklat dan permen rasa anggur.
aku minum sirup. aku makan roti.

makan dan bukan makan.

kepalaku bukan perut.
aku sepenggal kepala yang ditinggalkan di dalam kardus
dan tubuhku tak tahu kemana perginya kepala.
di dalam mall aku berteriak minta tolong,
seluruh orang-orang dan orang-orangan
cari mencari kepalaku dan kepalanya yang tiba-tiba hilang juga.

2009



Peri Sandi Huizche
Cara Ibuku Membuat Teri Balado

Kepada Rheana

“Anakku, kalau kamu nanti besar, kamu harus pandai memasak, memasak apa saja”
begitu kata ibuku.
Ini adalah resep ibuku utuk membuat teri balado
Bahan yang perlu disajikan adalah 200 gram teri tawar, 50 mili air, 2 buah jeruk limau, di ambil airnya dan minyak untuk menumis dan menggoreng
perlu bumbu agar masakan tetap nikmat
Bumbunya, 100 gram cabai merah, 8 siung bawang merah, 1 buah tomat, di rebus, 1 ¼ sendok garam
Cara membuatnya gampang dan mudah dilakukan, goreng teri hingga matang sampai mewangi, angkat dan tiriskan. tumbuk kasar semua bumbu, lalu tumis hingga matang, tambahkan air, aduk hingga mendidih. masukkan teri goreng, aduk rata. Jangan lupa, tambahkan air jeruk limau, aduk rata, angkat, sajikan dengan nasi hangat.

Aku hanya memperhatikan saja.
Dibenakku
Aku tidak mau memasak
Aku ingin memasak batu

Batu yang mengantarkan ku kekursi yang tinggi
Tinggi sekali

2009



Peri Sandi Huizche
Ikan Peda Dibakar Pake Minyak

Ikan peda dibakar pake minyak, dibumbui jeruk nipis, bawang merah, dan bawang putih.
Sepiring nasi hangat, daun singkong serta sambal tomat tak lupa menyertainya. dimakan di tengah sawah, di gubuk jerami, saat dzuhur menjenguk telinga.
Sebatang rokok daun kaung menuntaskan akhir perjamuan.

Ikan peda dibakar pake minyak, dibumbui jeruk nipis, bawang merah, dan bawang putih.
Lauk pavorit ala petani.
Di kampung suka damai, orang-orang beralih provesi
dari petani menjadi pengusaha bata merah, gunung-gunung dan sawah diambil tanahnya, tanah merah dicampur tanah liat, dibuatnya diinjak-injak dengan kaki lalu dimasukan kemesin penghalus, dari mesin penghalus, keluar tanah yang berbentuk persegi, dipotong-potong, maka jadilah kepingan bata yang siap dijemur di bawah mentari, ketika dzuhur datang ikan peda tak ada lagi.

Ikan peda yang dimakan cucuknya menusuk gusi.
Petani jarang ditemui, kalaupun ada bisa dihitung jari

Seketika ikan peda sering masturbasi
Mengiklankan dirinya di televisi
Di radio, koran-koran juga di katalog restoran.

Di tahun depan
Ikan peda tinggal hayalan

2009



Peri Sandi Huizche
Ada Peristiwa Tersembunyi

Ada peristiwa tersembunyi di balik sebuah kue
Kue yang sering kumakan dan kadang terselip di antara sela gigiku yang bolong

Kue lapis
kenyal-kenyal tapi bandel, warna-warni seperti suasana hati, manis tapi kadang ganas dan buas
Pada akhirnya najis.

Begitu juga tentang prahara cinta
Cintaku tertumpuk dalam wadah yang sama
Semakin tinggi ya semakin asyik
Ini bukan semata kisah segi tiga jaman sma atau cinta monyet yang norak
Seseorang yang lain menindih, tertindih oleh yang lain, terus dan terus
Lagi dan lagi, di hatiku.

Kisah ini baru kubuat dalam kue lapis
Kue yang sering kumakan dan kadang terselip di antara sela gigiku yang bolong

Tak jauh dari pengaruh banjirnya gambar iklan di kota-kota
Iklan shampo, bergambar seorang gadis yang berambut lurus, terhalang oleh iklan sabun yang seksi
Ada lagi iklan rokok yang gagah berani
Ada juga iklan susu buat bayi

membuat cintaku terseret arus
dan tertumpuk seperti iklan-iklan yang bertengger di jalanan

maka jangan tanyakan kenapa aku seperti ini.
2009



Peri Sandi Huizche
Ketika Jam Berputar Kearah Lain I

Gambar yang pertama kulihat adalah gambar akar yang menembus tembok.
samar terdengar detak metronom yang monoton, mungkin air yang menetes dari sebuah keran

Aku terbangun dari tidurku

Aku duduk di jendela kamar
Melihat jalan penuh debu dan sampah yang berserakan
Tak ada burung bangkai
Sepi.

Gedung-gedung bertingkat ditumbuhi pohon
Pohon yang tumbuh diatas genting, dinding dan jalan raya
Mobil-mobil bertengger, ban kempis, dengan kaca yang pecah
Hari semakin ngeri

Matahari tengelam, malampun datang
Bulan tertutup awan
Aku masih saja duduk di jendela sambil menggumamkan pertanyaan juga kelaparanku

Kemana perginya orang-orang, begitupun hewan.
Aku ditinggalkan di sini

2009




Peri Sandi Huizche
Ketika Jam berputar kearah lain II

Bom dimana-mana, membuat kondisi perekonomian memburuk, pertanian ancur, ditambah gempa bumi, serta tanah longsor.

Migrasi massal
Kota ini menjadi mati

2009




Peri Sandi Huizche
di sepanjang jalan aku menemukan huruf-huruf yang berjatuhan bersama hujan lalu angin meniupkannya keatas tulisan hitam ini, menjadi kata-kata yang tertata dalam sebuah rak atau lemari
-

Aku diam-diam merenung tentang keindahan dan harapan.
Tentang seribu mawar, sajian gadis manis. pada setiap kedipannya tersimpan aroma parfum. Sungguh nyaman kuhirup hidup ini dengan sebilah senyuman, yang menyapaku di bagian lain, entah apa, karena tiba-tiba saja jantungku jumpalitan, seperti bocah yang dihadiahi boneka atau robot-robotan.
Hehehehe
kata itu juga muncul, menyolek kebahagian, pelan-pelan aku mulai sampai, mengambang, berdampingan dengan sebuah mimpi.

Mimpiku adalah cerita tentang si pengembara yang mengelus rambut lurus, milik seorang perempuan petapa.
Rambutnya panjang, hitam, mengkilau seperti sebuah iklan di TV.

Sebelumnya perempuan itu berkata
“maka siapapun yang bisa menyentuh rambutku ia akan kupersilahkan meminang kegadisanku di pelaminan”.
barisan jawara pakidulan terkalahkan dengan satu tangan. sedang si pengembara yang menjelma sebagai semut diam di atas pundaknya, sambil tiduran.
“ayo, jawara wetan turun kemari, lawan aku”. Tandas si perempuan yang tak terkalahkan. Dua tiga jurus mereka sudah mampus.
Setelah itu si pengembara berkata
“nyai, kembang ini wangi, percis seperti rambutmu, kini sudah terurai, dan mari kita duel”
Perempuan petapa itu kaget, tanpa panjang lebar, si pengembara menyusun kuda-kuda, satu jurus meyerang dan perempuan itu jatuh ketas pangkuannya.

Itu dongeng nenekku, mungkin lain halnya dengan dongeng di ruang flat yang biru
Aku menulis di dindingmu, kau colek aku dengan gambar titik dua diakhiri lambang kurung tutup. Kita berhadapan dan tak mungkin mengalahkan. Bahkan saling sahut-sahutan. Kita akan berkenalan, kau lihat infoku, photo-photoku, dan setatusku. Begitu juga aku, aku akan mengomentarimu dengan kata-kata yang kupilih sebagai pamungkas sebuah tautan. Maka kita bermuara di portal yang sama, menjalin hubungan, mencoret setatus lajang.

Akh…
Esok lusa kita akan menyusuri pelangi
Sambil membawa seteguk mimpi

2009



peri sandi huizche
Puisi Lagi Lahir Dari Rambutmu Yang Dipotong Gunting


Kau menyuguhi kalimat ketakutan
di bilik itu kau menulis
“Maaf, rambutku dipotong, kau pasti tak suka”
Aku tersenyum saja sambil memunguti sisa rambut yang akan kau buang
Mungkin kau akan terhibur oleh itu.

Jika rambut adalah hiasan
Di mana letak mahkota bagi permaisuri
Dan jika rambut adalah keanggunan
Maka dimana letak keperempuanan

Menggunting.

Yang telah kau guntingi adalah sebuah tanda
Tandamu dan tandaku menyatu dalam satu wadah

Aku bisa menjadi kau
Kau berubah jadi apa saja.

Kita menggutingi mimpi-mimpi, harapan-harapan,
juga waktu

Kita muda lagi.

2009

1 komentar:

  1. Puisinya bagus-bagus sob, cuma ada beberapa saran nih:

    1. Satu puisi ditulisa dalam satu postingan, jangan seperti ini (beberapa puisi dalam satu posting).

    2. Setiap tulisan buatlah labelnya (Kategori) supaya setiap org mudah jika ingin melihat tulisan perkategori (lihat contoh blog ini Sastra Culun

    3. Buatlah shoutbox dan sering-seringlah blogwalking supaya banyak teman blogger yang membaca dan berkomentar di tulisan-tulisan kita. Cara membuatnya kunjungi aja SC Community's Blog

    Ok sobat, selamat berbloggingria

    BalasHapus